Servicing and Refueling : Persiapan Menuju Perpisahan #2
Bising kendaraan dan riuh orang berbincang menemani obrolan kami di halte. Sekitar lebih dari 3 bus kota datang dan pergi, sementara bus yang akan mengantarkan kami ke tempat makan belum kunjung datang juga. Saat itu rasanya mulutku sangat sibuk menceritakan ini dan itu, seperti tidak boleh ada yang tidak dia tahu. Begitupun dia, sibuk juga menceritakan kisah yang sepertinya dia sudah simpan untuk diceritakan saat bertemu denganku atau memang hanya mengalir begitu saja.
"Kayaknya kita naik bus yang ini aja deh terus transit hehe" kataku sambil berjalan ke pintu bus kota.
"Jadi sebenernya kita bisa naik dari bus pertama yang dateng tadi?" tanyanya sambil mengikutiku masuk ke dalam bus.
"Iya hahaha tapi transit Han" aku duduk sambil cekikikan dan diikutinya duduk disampingku.
"Kamu ya, kalau pakai ojol udah sampe kan seharusnya?" tanyanya jengkel.
Obrolan tadi yang belum selesai, kami lanjutkan di dalam bus kota, seperti 2 orang penyiar radio yang mengobrol menceritakan kisah-kisah kiriman dari penggemarnya dan didengar oleh seisi bus kota malam itu. Aku menceritakan banyak hal yang pernah aku lalui selama tinggal di Jakarta kepadanya. Kataku, "Han, Jakarta macet, panas, lembab, berisik, tapi disini aku sembuh. Aku sering pergi kesana kemari mencari-cari barangkali ada sisa-sisa kenangan dengan kamu, tapi ternyata tidak ada, ternyata ini kota baru untukku Han, kota yang tepat untuk aku namakan sebagai pelarian. Tapi sempat buyar setelah waktu itu aku tau kamu juga disini"
"Tapi kamu senang kan aku disini?" tanyanya, aku hanya senyum.
Aku lebih dulu merantau ke Jakarta ketimbang dia, setelah lulus kuliah di Bandung, aku memutuskan untuk tidak kembali kesana. Karena di Bandung lagi dan lagi aku menemukan kenangan berserakan dimana-mana. Tidak bisa pikirku, aku tidak bisa kembali ke Bandung. Lalu ternyata dia jadi Pramugara di salah satu maskapai swasta setahun setelah kepindahanku ke sini dan malam ini bukan pertemuan pertamaku dengannya di Jakarta.
"Ini tempatnya gimana sih? Rame ya? Tapi enggak sih kayaknya ya? aku tau sih tempatnya kayak gimana kalau kamu bilang kamu suka, ada tempat ngopi?" tanyanya banyak dan sudah dia jawab sendiri. 'Sok tahu' kataku dalam hati.
"Ada dong" sahutku singkat karena sibuk mencari jalan keluar dari halte.
Sesampainya di Pos Bloc kami langsung menuju ke tempat makan bakmi karena sudah kelaparan, dia tiba-tiba mendahuluiku jalan dan membukakan pintu untukku. "Terimakasih" kataku.
Kami duduk "Sesuai dugaanku. Okey" katanya sambil melihat-lihat menu.
"Kenapa?" tanyaku sambil juga melihat-lihat menu yang sebenarnya aku sudah tahu akan memesan apa.
"Tempatnya, kamu banget, aku pasti ajak Ilham sih nanti kesini, apa menu yang kamu suka disini?" katanya bertanya sambil menatapku.
"Bakmi dong bakmi pakai bakso" kataku menunjuk makanan itu di menu.
"Oke, kita makan besar malam ini" katanya sambil membolak-balikan menu.
"Aku mau lemongrass and ginger tea" ucapku sambil menata barang-barangku.
"Dih" katanya menatapku.
"Apa? Jompo banget ya?" tanyaku dengan mata menyipit.
"Ada soda gembira gak ya? Mas mas" dia angkat tangan dan memanggil pelayan. "Ada soda gembira gak ya? Soda yang di kasih susu itu loh" susulnya kepada pelayan itu.
"Soda gembira? Wah kayaknya engga ada mas" pelayan itu tampak kebingungan.
Aku cekikikan melihat tingkah laku dia. "Hahaha Han ihh, maaf maaf mas, jangan didengerin" sahutku kepada mas mas pelayan yang wajahnya jelas saja bingung.
"Yah Mas. Sayanya gembira masa sodanya engga, yaudah saya pesan bakmi ayam oven bakso 1, bakmi ayam oven pangsit...." perlahan suaranya mengecil di telingaku. Pikiranku melayang, aku dihujani kenangan-kenangan bersamanya saat beberapa tahun silam, kaset kusut itu sedang diputar di kepalaku.
"Lin. Alin." ucapnya membuyarkan lagi lamunanku.
"Ha? Kenapa?"
"Itu Masnya, hot engga?"
"Hah? Masnya hot?"
"Hahaha, Masnya nanya tehnya panas atau dingin."
"Ohh maaf Mas, panas panas".
"Baik, saya ulangi lagi pesanannya ya, 1 bakmi ayam oven bakso, 1 bakmi ayam oven pangsit rebus, 1 pisang goreng gula aren, 1 gyoza ,1 es cingcau, 1 hot lemongrass and ginger tea, ada lagi?" ucap pelayan itu.
"Sudah, terimakasih Mas" jawabku.
"Terimakasih ya Mas" dia ikut-ikutan bilang terimakasih. "Selama terbang ya, jujur aja, orang kita tuh kurang kalau buat bilang makasih dan maaf.
"Iya ya, kenapa ya? aku juga nemuin beberapa pasien gitu, padahal kan enggak susah untuk memvalidasi kebaikan orang lain" jawabku memvalidasi pernyataanya.
"Nah menurut aku sih ada banyak sebab, 2 diantaranya karena adanya standar berbuat baik dan kebiasaan di dalam keluarga."
"Maksudnya standar berbuat baik?" Aku semakin tertarik untuk mendengarkan penjelasannya.
"Jadi ya, mungkin orang-orang kita kan tanpa disadari tuh seneng mengkategorikan banyak hal, termasuk tentang hal ini, apakah perbuatan baik orang lain untuk dirinya itu termasuk ke dalam kategori hal biasa saja atau hal istimewa. Contoh nih, misal aku lagi serving meals untuk penumpang, ada yang bilang terimakasih ada juga yang tidak dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mungkin beberapa penumpang merasa gak perlu buat ucapin makasih, karena dalam pikirannya 'ah kan itu sudah tugasnya' gitu, padahal bener kata kamu, memvalidasi kebaikan orang lain itu mudah dan bisa dilakukan semata-mata karena kita sama-sama manusia, kan?"
"Ihh betul juga yaa" sahutku. Terimakasih ya Han, sudah tumbuh sejauh ini, batinku menggerutu tanpa mampu mengucapkannya.
Pesanan kami sudah tersaji semua. Dia makan dengan lahap, seperti dia pada biasanya. Obrolan-obrolan kami pun tersaji cukup lengkap. Dia bercerita tentang petualangan-petualangan yang sudah dia lalui selama terbang kesana-kemari. Aku pun bercerita ini itu yang juga tak kunjung selesai. Sampai makanan perlahan mulai habis, tetapi tidak dengan obrolan kami yang tidak ada habisnya.
"Maaf Om, boleh close bill? soalnya kami sebentar lagi tutup." kata pelayan yang menghampiri meja kami.
"Ohh iya."
"Hai Om" kataku menggodanya. Dia sedikit jengkel, hidungnya kembang kempis. "Makanan aku berapa?"
"Gausah sih Lin apaan dah."
"Jadi ini ditraktir nih? Aku gamau ngutang-ngutang lagi ya, cukup scaling jadi utang terakhir aku."
"Enggakla. Yuk ah keluar kayaknya sisa kita berdua doang" jawabnya sambil berdiri dan memasukkan barang-barangnya ke dalam saku.
"Ayok."
Kami keluar dari tempat makan bakmi, duduk di kursi yang ada di luar. Aku masih sibuk memakan sisa 1 pisang goreng. Dia ikut duduk.
"Jadi, apa yang mau kamu omongin ke aku Han?" tanyaku kepadanya. Sebenarnya pertemuanku dengannya hari ini, bukan tanpa sebab. Selain aku yang ingin membayar hutang untuk membersihkan karang giginya, ada juga dia yang sudah 1 tahun ini merecoki pikiranku karena ada yang ingin dia sampaikan kepadaku tapi tidak pernah jadi.
"Boleh cari air mineral dulu ga?"
Aku bangkit dari tempat duduku. Melihat toko-toko yang masih buka dan menjual air mineral. Tidak bisa, tidak ada hari lain, harus hari ini. Batinku.
"Jadi gimana? Apa sih yang mau kamu omongin?" tanyaku setelah kami dapat air mineral dan kembali duduk di tempat kami tadi.
"hhhh" dia menarik nafas. " Jadi gini, tapi semoga aku bisa mengutarakan ini sampai kepada apa yang aku maksud dan kamu bisa menerimanya dengan baik" katanya serius tanpa menatap mataku. "Yang pertama, aku mau minta maaf sebesar-besarnya sama kamu, ini bener-bener selama ini bikin aku gak tenang, rasanya malu sekali, aku minta maaf Alin pada saat Ayah kamu meninggal, pada saat kamu berduka, aku gak dateng, aku gak disana, gila banget sih aku, kayak bukan manusia, aku gak ngerti apa yang aku pikirin waktu itu."
Aku melihat raut penyesalan di wajahnya. Ayahku meninggal pada tahun 2021, pada saat itu aku sempat mengabarinya, atau bahkan dia orang pertama yang aku kabari jika Ayah sudah tidak ada. Namun memang, dia tidak ada saat pemakaman.
Dia menghela nafas lagi. Aku tidak menjawab, memberikan ruang untuk dia berbicara. "Waktu itu, Risa juga sempat mengirim pesan, katanya sepertinya aku harus datang karena kamu kacau sekali hari itu, katanya sepertinya aku harus ada disamping kamu. Tapi aku ga ngerti, sesibuk apa aku sampai-sampai aku gak dateng. Aku malu sekali sama Ibu kamu, sama saudara-saudara kamu, sedikit banyak aku kenal mereka. Ya emang mungkin siapalah aku pada saat itu, tapi aku seharusnya ada untuk kamu, aku minta maaf ya, Lin" ucapnya sambil menunduk.
Seketika kami hening. Mungkin dia tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf lebih jauh.
"Boleh aku tanggepin Han?" tanyaku, memastikan bahwa dia sudah selesai berbicara. Dia mengangguk.
"Han, tentang ini, memang aku kecewa sekali, lebih tepatnya sedih sih. Hari itu benar-benar tidak bisa aku gambarkan apa yang terjadi pada diri aku. Kacau sekali. Kacau. Aku memang butuh kamu pada hari itu. Ibu juga sempat tanya 'Kamu kemana?' aku jawab, 'kamu di luar kota engga bisa datang, Ibu yang sabar katanya turut berduka cita, mungkin nanti kalau urusannya sudah selesai kamu ke rumah' tapi sampai saat ini kamu tidak pernah datang. Tapi Han, yang lalu biarlah berlalu, engga usah larut terlalu dalam sama penyesalan kamu tentang ini."
Dia terdiam. Aku juga.
"Udah ya, engga apa-apa kok, Ayah juga juga udah tenang di sana, Ibu juga udah menerima sepenuhnya" kataku berharap bisa menenangkan pikirannya.
"Kalau kamu? Kamu gimana?"
"Aku? Baik, baik sekali seperti apa yang kamu lihat hari ini, aku dipaksa sembuh secepat mungkin Han."
"Aku minta maaf ya Lin."
"Iya udah gapapa, minta do'anya ya untuk Ayah" aku tersenyum.
"Pasti! Pasti aku do'akan."
"Lalu apa yang kedua?" tanyaku kembali. Berusaha menghindari topik ini. Aku memang sudah mengikhlaskan kepergian Ayah, tapi aku tidak ingin terbawa perasaan sampai larut kembali dalam kesedihanku.
"Nah, yang kedua.."ia terhenti.
udah duluuu yaaa dilanjut nantiii hahahaha gakuat nangis muluuu gaisssss.
Seperti biasa, kmu hafal setiap detail. Imajinasi aku terbangun bukan karena tau alur ceritanya, tapi karena penulisannya
BalasHapusHan?
HapusTernyata ada tulisan yang senang buat dibaca berulang. Entah suka karena tulisannya, atau suka karena imajinasi yang terbangun
BalasHapusTerimakasi ya dari dulu sudah jadi pembaca setia tulisanku yang begitu-begitu aja. Kamu mau kan untuk tunggu dan baca part-part berikutnya? ^^
Hapus