Hujan Antarkan Rasa Ini dari Langit

Pada Awal Tahun 2014

Matahari sore itu mulai menampakan setitik cahayanya di balik awan yang masih mendung. Aku menadah hujan di telapak tanganku.

"Hujan-hujan pergilah, datanglah lain hari." Aku bermantra mengusir hujan yang tak kunjung berhenti. Kuperhatikan pegawai toko gorden yang kami singgahi sebagai tempat berteduh mulai membereskan dagangannya pertanda tokonya akan tutup, seperti memberi isyarat kepada kami bahwa kami harus beranjak karena dia akan bergegas pulang.

"Kayaknya udah lebih reda deh Han. Mau coba lanjut?" tanyaku kepada Rehan.

"Oke ayok."

Kami menerobos gerimis yang belum mampu membuat baju kami kuyup, hanya sedikit basah. Namun di tengah perjalanan hujan kembali turun sangat deras, memaksa kami berhenti lagi di toko pinggir jalan yang kebetulan sudah tutup, untunglah, setidaknya kami bisa menunggu hujan reda dengan tenang tanpa harus mengganggu si pemilik toko. Terdapat bangku kecil, aku duduk dan membuka map plastik yang sedari tadi aku jaga dengan hati-hati, memastikan bahwa isinya baik-baik saja. 

Hari ini kami bertugas untuk memberikan surat undangan kepada Kepala Dinas Pendidikan, bagaikan tukang pos yang memiliki tanggung jawab besar saat mengantarkan surat cinta dari pujangga untuk kekasihnya, kami merasa bahwa surat ini harus sampai di tangan Kepala Dinas secepatnya, tidak boleh tidak. Baju kami sudah kuyup, hujan belum berhenti, langit semakin pekat pertanda hujan akan tetap deras dan sore akan semakin dalam.

"Terusin aja yuk Han, udah sore nih." 

Sejak hari itu kami semakin dekat, bertukar SMS hampir setiap hari, membicarakan organisasi, gosip di sekolah sampai hal apapun, konspirasi UFO, bumi datar, manusia kloning, segala hal yang pernah viral di jaman itu. Aku dan Rehan pertama kali bertemu saat ospek tahun lalu, kami sedang duduk beberbaris di aula, mendengarkan teriakan-teriakan kakak kelas yang sedang memberikan pengumuman bahwa akan ada seleksi untuk masuk kelas unggulan, tiba-tiba dia membalikkan badan ke belakang. 

"Kamu mau masuk kelas unggulan?" tanyanya.

"Gatau sih," jawabku singkat.

"Eh kamu siapa tadi?" ia menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Alindia Azzahra Pradisty, pakai y."

"Harus? aku Rehan, Rehan Idzni Ticiano, o nya pake titik 2 di belakang."

"Harus?"

"Wajib."

Perkenalan singkat kami terpotong karena kakak kelas memerintahkan untuk segera masuk ke kelas sementara selama ospek. Saat memasuki ruang kelas aku terkaget karena laki-laki jangkung dengan kumis tipis dan alis tebal yang tadi memperkenalkan diri sebagai Rehan itu satu kelas denganku. Suatu waktu akhirnya dia menjelaskan kepadaku kalau makna titik dua itu diambil dari penulisan bahasa Jerman yang diserap dari bahasa Yunani, jika o diiringi titik 2 seperti o: artinya dibaca panjang, jadi Ticianoo. Dia juga pernah bertanya kenapa nama belakangku Pradisty pakai y, kata Ayah 'biar keren saja', awalnya aku tidak menerima alasannya, tapi akhirnya aku suka juga.

Mataku saat itu selalu tertuju pada Rehan, bagaimana tidak, sepertinya semua gadis di kelasku juga sama, dia tinggi, putih, wajahnya dibalut dengan hidung mancung juga alis tebal dan dipilih pula jadi ketua kelas, cukup untuk membuat banyak mata tertuju pada dia, termasuk hingga terciptanya kabar bahwa dia telah berpacaran dengan kakak kelas osis. 'Sudah kuduga' batinku. Sampai suatu waktu saat aku masuk ke ruang osis, dia dan teman kami lainnya Ilham sedang berbicara serius, ternyata Rehan putus dengan kakak kelas itu.

"Wah gila sih," celutukku saat mendengar kalau kakak kelas itu ternyata sudah berpacaran dengan laki-laki dari sekolah lain. "Putus aja udah, cari yang baru." Aku mengompori mereka berdua.

"Bener Han. Aku setuju," kata Ilham menyusul.

Aku meninggalkan mereka di ruang osis dengan sumringah. Mengetahui bahwa Rehan sudah tidak berpacaran lagi dengan kakak kelas itu. Aku tidak pernah memulai untuk mendekatinya kelas kami saja berbeda, namun ada saja hal yang membuat kami banyak menghabiskan waktu bersama, ditambah aku dan dia sama-sama ikut osis.

Aku semakin sering mengobrol dengan Rehan. Mungkin obrolan kami terlalu dalam hingga suatu hari di hari Sabtu, saat aku sedang membaca buku di ruang osis tiba-tiba Rehan menarik tanganku berjalan sampai ke lapang basket, Rehan mengutarakan rasa ketertarikannya kepadaku. "Jadian yuk!" katanya, kalimat populer pada jaman itu untuk mengajak berpacaran. Aku mengangguk --kan memang dia sudah jadi incaranku dari saat aku masuk ke sekolah ini-- lalu seisi lapangan bersorak. Cieeeeee. Aku malu dan berlari lagi masuk ke ruang osis, tanggal 19 April 2014 menjadi hari bersejarah buat kami.

"Kok kamu suka sutet itu Lin?" Rehan duduk disampingku di depan Gedung DPR, bukan yang itu maksudnya. Maksudnya, itu adalah julukan untuk ruang osis di sekolah kami yang artinya Di bawah Pohon Rindang. Karena tepat di depan ruang osis terdapat pohon rimbun yang melingkupi sampai atap ruang osis sehingga ruang osis sekolah kami dijuluki Gedung DPR.

"Heh! Menara Eiffel," jawabku.

"Iya Menara Eiffel. Kok suka? Pernah kesana emang?" ia mengambil gantungan tas yang baru aku beli.

"Pengen kesana sih lebih tepatnya. Emm... kenapa ya. Dulu Ayah suka cerita tentang 7 keajaiban dunia, entah kenapa cerita yang dipilih Ayah untuk menggambarkan suasana Menara Eiffel bikin aku nyaman. Katanya disana kalau musim gugur sudah mulai dingin, musisi jalanan menemani orang yang sedang nikmatin secangkir kopi di cafe untuk membuat kota itu terasa lebih hangat, katanya juga aku bisa naik ke atas menara dan liat bagaimana Paris saat musim gugur dari atas. Katanya saat musim gugur, cuacanya bagus, tidak terik dan belum terlalu dingin."

"Ayah kamu pernah kesana?"

"Aku juga sempat tanya 'memang ayah pernah ke sana?' terus dia jawab 'belum lah'. Justru karena Ayah juga belum pernah pergi ke sana, aku jadi penasaran, apa cerita hangat darinya itu betulan ada atau engga."

Ayah suka sekali bercerita. Dia pendongeng yang handal, darinya aku belajar bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mencintai keindahan, karenanya pula aku jadi suka membaca dan menulis. Dulu saat pergi ke toko mainan, yang aku cari adalah majalah bobo, aku bercita-cita suatu saat ceritaku akan dipajang di majalah itu dan sampai hari ini wangi buku menjadi wangi favoritku setelah wangi uang baru. Hehe.

Komentar

  1. Balasan
    1. Dibaca dengan cara yang sama, berulang sampai kebutuhan imajinasi tercukupi

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

dari Alin, Semoga Lama di Bumi, Han! :)

Pre-Flight Check : Persiapan Menuju Perpisahan #1