Back to Base : Kembali Kepada Kita #1

Sebagian orang --- karena mungkin tidak semuanya --- pasti memiliki cerita perjalanan tentang bagaimana hingga pada akhirnya ia menemukan versi terbaik dari dirinya, setidaknya diri yang lebih baik dari dirinya yang kemarin, bukan orang lain, tapi dirinya, sendiri.  Perjalanan itu pasti tidak mudah, penyesalan, keputusasaan, keraguan, selalu menjadi kawan dalam setiap langkahnya. Dalam menempuh perjalanan yang sulit itu, seringkali kita butuh teman berbagi, setidaknya teman berbagi cerita, namun menemukan sosok lain yang memahami ritme langkah kita saat perjalanan itu dimulai, tidak mudah. 

Pada akhir Juli 2015.

Treenggg. Jam istirahat dimulai. Aku sibuk menyusun urutan kertas yang sudah kubuat semalaman untuk aku sebarkan di beberapa titik penjuru sekolah. 

"Alinnya ada?" terdengar suara Nura dari luar kelas.

"Aliiin, dicariinnnn," teriak teman sekelasku yang sedang menghapus papan tulis.

Aku menghampiri Nura ke luar kelas "Gass gass gass."

"Sekarang nih mulai?"

"Iya cepetan keburu selesai jam istirahatnya." 

"Gak jajan dulu kita ini?"

Aku mengeluarkan beng beng dan memberikan kepada Nura.

"Gitu dong isi bahan bakar, dimulai dari 0 ya kakak, kemana dulu kita ini?"

"Ini nih kamu bawa ya, nanti pas mau jam pulang sekolah, kamu kasih ke dia." aku keluarkan 2 amplop dan memberikannya kepada Nura.

Nura membuka kertas lipat yang sudah aku jadikan amplop. "Hai Rehan! Semoga harimu menyenangkan. Hidiiihh, uwekk, lebih ke melelahkan ya, kamu kan mau suruh dia muterin sekolah, mana ada menyenangkan," ledek Nura. 

"Shutt diem. Coba sorry solatipnya." Aku mengulurkan tangan sambil berjinjit memegangi kertas yang akan ditempel di pintu masuk ruang siaran radio sekolah.

"Loh mana? engga ada." Nura sibuk mencari solatip di dalam totebag.

"Ada di situ." Aku masih berjinjit, menahan kertas yang belum ditempel.

"Engga ada Alin."

"Tadi aku masukin."

"Engga ada."

"Gimana dong?" 

"Ih gimana sih ga well prepare banget. Udah simpen aja di bawah pintu," Nura memberikan ide.

"Kalau ntar ketiup angin terus masuk ke dalem, gimana cara ngambilnya?" tanyaku. 

"Kasih batu, biar engga terbang."

"Kalau terbang?"

"Nanti yang pecahin teka-teki dan dapet surprisenya si babeh."

"Hahahaha." Kami tertawa. 

Nura menemaniku menaruh kertas-kertas itu di beberapa titik sekolah sesuai dengan petunjuk di kertasnya. Kertas pertama berisi 'Hai Rehan! semoga harimu menyenangkan.' yang tadi sudah aku berikan kepada Nura. Kertas ke 2 berisi 'Hai.. Cari aku di tempat dimana seisi sekolah bisa mendengarku, suaraku terpancar melalui antena, kamu bisa pesan lagu favoritmu disini' kertas ini juga sudah kuberikan kepada Nura. Lalu kertas ke 3 aku taruh di bawah pintu ruang siaran radio sesuai ide Nura yang isinya 'Kita belum bisa bertemu! Coba cari aku di tempat favoritku, jendela-jendela disini bisa untuk melihat seisi dunia. Tempatnya sepi dan sejuk. Buka alas kaki sebelum masuk, aku ada di sudut ruangan, di bawah penyejuk udara'.

"Terus kemana lagi?"

"Kantin."

"Udahan nih? jajan?"

"Nyimpen clue disana."

"Serius? Kalau kebeli sama orang gimana?" tanya Nura sambil makan beng beng pemberianku.

"Ya aku untung, dapet uang," jawabku. "Bu, nitip ya kertas, ditaro di atas kulkas, bentar doang sampe jam pulang sekolah, ntar ada yang ngambil ya, makasiiii." Aku taruh kertas ke 5 di atas kulkas kantin. Tinggal sisa 2 kertas yang akan aku taruh di loker ruang osis.

Treeengg. Bel masuk sudah berbunyi. Nura kembali ke kelasnya membawa 2 kertas yang aku titipkan. "Amanah. Jangan sampai hilang." Aku memberi mandat kepadanya untuk memberikan kertas itu kepada Rehan, pacarku. Nura sekelas dengannya, aku harap dia tidak lupa. Aku bergegas ke Ruang Osis, menaruh hadiah ulang tahunku untuk Rehan, kotak berisi miniatur pesawat bertuliskan 'AIRFRANCE', pesawat yang semoga akan membawa kami ke Paris, kelak. Sebenarnya Rehan ingin sekali miniatur pesawat Garuda Indonesia, tapi sudah kucari ke toko-toko di seluruh kota kecil ini, tidak kutemukan juga, hanya ada miniatur Airfrance, mungkin semacam takdir, karena mimpi kami ingin pergi ke Paris sama-sama suatu saat nanti. Aku kembali ke kelas, harap-harap cemas apakah Rehan akan bisa menemukan hadiah dariku atau tidak. 

Aku dan Nura membawa kotak berisi kue ulang tahun ke selasar kelas 10 yang berada di lantai 2. 

"Udah kamu kasih amplopnya?" tanyaku kepada Nura.

"Udeh." 

"Terus apa katanya?"

"Katanya 'Apa neh?'  dia buka kertasnya, nyengir, pipinya merah, ambil tas terus lari turun tangga."

Aku tersenyum sambil melihat ke arah lapangan sekolah, menunggu Rehan masuk ke Ruang Osis. Setelah beberapa saat dia keluar dari lorong aula dan jalan setengah berlari ke Ruang Osis. "Nur, Nur, korek Nur, Rehan udah masuk Ruang Osis." Aku tepuk tepuk lengan Nura dengan tangan yang mulai dingin.

"Lah, kan kamu yang bawa."

"Lah gaada." Aku panik, Rehan mulai berjalan dipinggir lapang sambil membawa kotak hadiah dariku yang berarti ia tinggal menyelesaikan clue terakhir untuk menuju ke lantai 2 menemui aku yang seharusnya sudah siap dengan lilin dan kue ulang tahun yang akan ditiup olehnya, namun lilin belum bisa dinyalakan, Nura langsung berlari meminjam pematik ke satpam melalui tangga depan lobi sekolah. Aku menyembunyikan badan di balik dinding, pura-pura tidak melihat Rehan.

"Hei." 

Aku kaget dan menoleh. "Hap..py Birth..day... hehe," dengan lilin yang belum menyala aku angkat kotak kue di tanganku.

"Lin... gaada koreknya gimana dong." Nura menghampiri kami dengan nafas yang terengah-engah. "Lahhh." Dia kaget karena kuenya sudah dipegang oleh Rehan.

Setelah selesai rapat osis, Rehan menghampiriku. "Kamu pulang bareng Ronald gapapa? Aku gak bisa antar, bawa kotak kado sama kotak kue, susah bawa motornya. Tadi aku udah bilang Ronald," memang rumah kami berbeda arah dan rumahku searah dengan Ronald, teman osis kami.

"Okey. Gapapa aku bareng Ronald aja."

"Terimakasih ya hadiahnya dan serunya muterin sekolah."

"Hahaha iya sama-sama, met ultah eakk."

Aku menghampiri motor Ronald. "Berangkat nih?"

"Yoi," jawabku sambil naik ke motornya.

"Hafal kan lu rumah dia? hati-hati lu jangan sampe lecet," sahut Rehan kepada Ronald.

"Halah kalau lecet tinggal ketok magic."

"Heh." Aku memukul helm Ronald. 

Ronald menyalakan motornya. Aku melambaikan tangan kepada Rehan. Dia mengikuti kami di belakang. Setelah sampai perempatan, seharusnya Rehan mengambil jalan belok kiri, tapi dia masih mengikuti motor Ronald. Aku tanya dia dengan mengangkat tanganku mengisyaratkan 'loh kok?' dia menjawab juga dengan isyarat tangannya 'maju terus'

"Si Rehan masih ngikutin tuh di belakang. Tapi katanya jalan terus." Aku berteriak kepada Ronald.

"Aneh banget memang pacar lu Lin"

Aku melihat ke arah Rehan. Dia menjulurkan lidah dan menjulingkan matanya. Aku tertawa. Tidak lama aku dan Ronald sudah sampai di depan gerbang rumahku, juga Rehan.

"Ih apasih lo, tau gitu lo anter aja sendiri."

Rehan terkekeh-kekeh turun dari motor dan menghampiri Ronald.

"Thank You ya udah anterin Alin dan, gua hahaha."

"Dah ah gua lanjut, orang gila lu. Dah Lin, obatin tuh pacar lo, udah gila dia karena cinta." Ronald menyalakan motornya dan pergi meninggalkan kami berdua.

"Kamuuu ih, kasian si Ronald." Aku mencubit perut Rehan.

"Hahaha biarin, kan sekalian balik dia. Yuk naik."

"Loh? Kita pergi?" tanyaku sambil naik ke motornya.

"Iya, kita pacaran."

Kami menyusuri jalanan kota kecil ini, tiap-tiap sudutnya sudah ada cerita-cerita sendiri tentang kami. Seperti ruko di pinggir jalan itu, awal tahun 2014 lalu, kami berdiri disana untuk berteduh, mungkin itu awal dari cerita kami, mungkin rintik hujan hari itu yang mengantarkan perasaan ini dari langit. 

NB : Dear pembaca, sebenarnya aku lupa isi clue-nya, punya fotonya, tapi tidak seperti sekarang, tidak ada yang bisa diharapkan dari kualitas foto tahun itu. Jika suatu saat aku punya kesempatan untuk bertemu si empunya kertas-kertas itu, akan coba kutanyankan. Hihi, thank youuuu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

dari Alin, Semoga Lama di Bumi, Han! :)

Pre-Flight Check : Persiapan Menuju Perpisahan #1

Hujan Antarkan Rasa Ini dari Langit