Final Inspection : Persiapan Menuju Perpisahan #3

Kepada kamu, Han.
Percakapan pada malam itu
sulit aku cerna seluruhnya.
Semesta terlalu sebecanda itu kepada cerita kita.
Kubiarkan tanganku bergerak
begitu saja, untuk menulisnya.


Orang-orang yang duduk di bangku-bangku dekat kami perlahan mulai pergi. Sisa dua sejoli yang sepertinya sedang saling merayu. Tidak seperti percakapan kami kali ini, berisi perayaan sesal dari masa lalu. Kedai-kedai disana juga sudah tutup, seperti kecewa karena dibiarkan mendengar percakapan kami tanpa diajak bergabung. 

"Lin, banyak sekali yang ingin aku sampaikan ke kamu, tentang kita dulu, lebih tepatnya aku, dulu. Tapi susah sekali, aku gak tau harus mulai dari mana karena sebenarnya aku gak hafal secara detail, cuman mungkin aku mulai tentang masalah di gasibu waktu itu, sebenernya gak seperti apa yang kamu pikirkan, ya tapi aku juga sadar, mungkin kebenaran bagi aku dan kamu itu berbeda. Jadi sepertinya aku tidak usah lah ya nyampein klarifikasi lagi, aku gak mau juga terkesan seperti nyari-nyari pembenaran, karena aku akui memang yang aku lakukan itu salah." ucapnya tanpa jeda, seperti takut aku intrupsi.

Tetap saja tidak bisa. "Gila ya kamu. Aku sih setiap detail hafal banget, gimana bisa aku lupa. Hahaha." tentang ini, aku tidak bisa bersabar untuk menunggunya selesai bicara. 

'Pergilah kasih kejarlah keinginanmu'. 
Suara live music mengiringi obrolan kami. Seperti tau lagu apa yang cocok dengan isinya.

"Iya Alin iya, tapi aku itu bukan kamu. Aku gampang banget lupa." katanya menegaskan.

Aku memang pelupa, tapi juga susah lupa dan itu adalah 2 hal yang berbeda. Pelupa adalah sifatku namun untuk hal-hal yang cukup menguras emosiku sulit untuk aku lupakan. Mungkin kejadian 5 tahun yang lalu tidak begitu menguras emosinya, jadi mudah untuk ia lupakan.

"Han, selama 5 tahun aku ingat itu sebagai pelajaran dalam hidup aku, sebagai kekuranganku. Lima tahun aku coba sembuh dari itu. Yaa tapi pasti gampang sih buat kamu lupain, kamu kan cepet banget move on dari aku." aku berbicara dengan nada yang sedikit marah dan terdengar menyindirnya.

"Lin, apa menurut kamu semua itu gampang buat aku? Susah Lin, susah." sahutnya. "Kamu itu ngisi aku banget, kamu selalu paham aku, kamu selalu ada buat aku, effort banget." susulnya tanpa menatapku.

"Lalu? itu salah Han?"

"Sama sekali engga. Aku baru sadar itu setelah engga dengan kamu. Aku inget, gimana kamu juga ikut sibuk mencari-cari gimana dunia penerbangan, gimana mimpi-mimpi aku. Sampai-sampai seperti kamu yang ingin ada di dalamnya. Kamu salah satu yang buat aku bisa sampai sejauh ini Lin. Pada saat setelah engga ada kamu, aku urus ini itu sendiri, cari ini itu sendiri. Tapi aku apa Lin? Aku gak menyelami kamu lebih dalam."

"Han, obrolan tentang mimpi-mimpi kita yang buat aku bisa sampai sejauh ini. Bahkan sampai sekarang Han, Bandara jadi tempat favoritku, Bandara jadi tempat aku melarikan diri kalau-kalau di sini sedang rumit. Cuman sekedar ngopi, plane spotting, nulis, lalu pulang. Tapi tiap aku di Bandara, semesta engga mengizinkan aku setidaknya papasan saja dengan kamu." kataku. 

"Tapi kalau kamu liat aku, kayaknya engga akan dipanggil juga kan?" 

"Iya, engga perlu juga. Lihat kamu baik-baik aja juga sudah cukup."

Semenjak aku tinggal di Jakarta, pergi ke bandara adalah ritualku untuk menenangkan diri. Setelah pulang dari sana aku merasakan diriku yang kembali utuh, siap untuk menghadapi apapun di dunia. Seperti ponsel yang butuh diisi daya, seperti itulah aku kepada bandara. 

"Kamu tau gak? Jersey yang kamu kasih?" tanyanya.

"Kenapa? Ketinggalan di damri lagi?" tanyaku balik.

"Enggak pernah aku pake. Karena takut sablon namanya ilang. Kamu kasih aku jersey PSG padahal aku suka Barca" katanya.

"Kan aku yang suka PSG. Tapi aku benci sekarang." jawabku. Dia hanya tersenyum.

"Aku juga inget banget, waktu aku ulang tahun, kamu simpen teka-teki di seluruh sekolah, terus aku harus cari kertas-kertas itu sesuai petunjuknya, di akhir ternyata ada kue."

"Miniatur pesawat kali. Lupa kan kamu." 

"Iya itu ada, cuman akhirnya kan aku harus nyari kamu, terus ketemu, kamu kaget, aku juga kaget, eh lilinnya telat diidupin. Hahaha. Itu hadiah ulang tahun paling berkesan di hidup aku sih, siapa coba yang kepikiran bikin gituan selain kamu. Niat parah." dia bercerita lengkap, membangkitkan memori masa-masa kami sekolah dulu.

Aku hanya bisa tersenyum, sambil sedikit berkaca-kaca. Kami tumbuh bersama, dewasa berdampingan. Tidak pernah aku bayangkan hari ini akan terjadi. Hari dimana kisah-kisah lucu kami, kami ceritakan dengan pilu dan membuat hatiku tidak karuan.

"Aku merasa dirayakan saat dengan kamu Lin. Saat dengan kamu aku merasa terpenuhi, dipahami, dengan tulus."

"Lalu kenapa memilih pergi Han?"

"Sayangnya aku gak seperti kamu. Salahnya aku gak melakukan hal yang sama. Aku egois dulu. Aku liat kamu lebih dominan diantara kita. Aku takut kamu sakit dan kecewa, jadi aku milih untuk pergi."

"Sayangnya dengan kamu memilih pergi, itu buat aku sakit dan kecewa."

"Itu juga keputusan yang berat buat aku."

"Kamu gak pernah obrolin ini dengan aku."

"Pernah Alin."

"Kamu engga pernah bisa di ajak ngobrol Han. Kita enggak pernah bisa ngobrol dengan kepala dingin."

Dia terdiam. Aku mencerna semuanya. Mengingat-ngingat apa yang dia katakan dulu. Seingatku bukan itu. Bukan itu alasannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

dari Alin, Semoga Lama di Bumi, Han! :)

Pre-Flight Check : Persiapan Menuju Perpisahan #1

Hujan Antarkan Rasa Ini dari Langit